gtag('config', 'G-NTGKKTRYW5'); Kesal Minim Direkrut, Pemuda Sungai Manasib Hentikan Operasional Tiga Kontraktor PHR -->

Notification

×

Kategori Berita

CARI BERITA

Iklan

Iklan


Iklan


Kesal Minim Direkrut, Pemuda Sungai Manasib Hentikan Operasional Tiga Kontraktor PHR

| Rabu, Juni 10, 2026 WIB | Last Updated 2026-06-10T16:05:07Z

ROKAN HILIR – Karang Taruna Kepenghuluan Sungai Manasib melakukan aksi penghentian sementara aktivitas tiga perusahaan yang beroperasi di wilayah mereka, Rabu (10/6/2026). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap minimnya penyerapan tenaga kerja lokal oleh perusahaan-perusahaan yang bekerja di kawasan tersebut.

Tiga perusahaan yang menjadi sasaran aksi itu yakni PT Wahanakarsa Swandiri MD, PT Vadhana International RWW, dan PT Berkat Karunia Phala. 

Diketahui, perusahaan-perusahaan tersebut merupakan subkontraktor yang mengerjakan sejumlah pekerjaan di wilayah operasional PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Kepenghuluan Sungai Manasib.

Ketua Karang Taruna Sungai Manasib, Zakaria, mengatakan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan pemuda dan masyarakat yang hingga kini masih kesulitan memperoleh pekerjaan, meskipun banyak perusahaan beroperasi di daerah mereka.

Sebelumnya pihak Karang Taruna mengaku telah terlebih dahulu menanyakan langsung kepada mandor perusahaan mengenai keterlibatan warga Sungai Manasib dalam pekerjaan yang sedang berlangsung. Namun, jawaban yang diterima justru semakin memicu kekecewaan masyarakat.

"Kami sudah menanyakan kepada mandor di lapangan apakah ada warga Sungai Manasib yang bekerja pada pekerjaan yang sedang berjalan saat ini. Jawabannya tidak ada. Yang bekerja justru kebanyakan berasal dari luar daerah," ujar Zakaria.

"Apo tak goam awak dibueknyo. Dianggapnyo kampung awak ko tak betuan. Tulah kadang membuek kami nak mengamok ko," imbuhnya dengan dialek Melayu.

Ia juga mengaku prihatin karena masih banyak masyarakat tempatan yang menganggur, sementara aktivitas perusahaan di wilayah Sungai Manasib terus berjalan. Masyarakat jangan sampai hanya menjadi penonton di kampung sendiri.

Menurutnya, perusahaan yang beroperasi di Sungai Manasib seharusnya memberikan prioritas lebih besar kepada tenaga kerja lokal, terutama untuk pekerjaan yang tidak memerlukan keahlian khusus.

"Kami tidak menolak investasi ataupun operasional perusahaan. Namun, keberadaan perusahaan harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar melalui pembukaan lapangan kerja dan transparansi dalam proses rekrutmen," katanya.

Zakaria juga meminta pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memfasilitasi komunikasi antara perusahaan dan masyarakat guna mencari solusi atas persoalan tersebut.

"Kami berharap ada kebijakan yang mendorong perusahaan memberikan porsi yang lebih besar kepada tenaga kerja tempatan sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari aktivitas industri di wilayah ini," tambahnya.

Senada dengan itu, pemuda Sungai Manasib, Rizki Yahya, menegaskan bahwa masyarakat hanya menginginkan kejelasan dan kesempatan kerja yang lebih terbuka bagi warga setempat.

"Kami ingin ada kejelasan terkait tenaga kerja untuk masyarakat tempatan. Jangan hanya beroperasi di Sungai Manasib, tetapi masyarakat sekitar tidak mendapatkan kesempatan untuk bekerja," tegasnya.

Sementara itu, saat aksi berlangsung, beberapa supervisor dan mandor perusahaan yang ditemui Karang Taruna Sungai Manasib menyatakan akan menyampaikan tuntutan masyarakat tersebut kepada pimpinan perusahaan masing-masing untuk ditindaklanjuti.

Masyarakat berharap perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah Sungai Manasib dapat lebih memperhatikan pemberdayaan tenaga kerja lokal sebagai bentuk tanggung jawab sosial kepada lingkungan sekitar.(Lang)