gtag('config', 'G-NTGKKTRYW5'); Tren Selebrasi Kelulusan Makin Ramai, Mahasiswa UIN Suska Riau Ini Pilih Tetap Sederhana -->

Notification

×

Kategori Berita

CARI BERITA

Iklan

Iklan


Iklan


Tren Selebrasi Kelulusan Makin Ramai, Mahasiswa UIN Suska Riau Ini Pilih Tetap Sederhana

| Rabu, Mei 20, 2026 WIB | Last Updated 2026-05-20T15:32:23Z



PEKANBARU - Mahasiswa UIN Sultan Syarif Kasim Riau Muhammad Almi tampil beda di tengah ramainya tren selebrasi kelulusan dan pencapaian akademik di lingkungan kampus, Almi justru memilih tidak selebrasi dan tanpa perayaan. Di karenakan ia ingin menunjukkan kesederhanaan sebagai bentuk rasa syukur atas pencapaiannya.

Sikap tersebut sengaja ia tunjukkan untuk menanamkan nilai kesederhanaan di kalangan mahasiswa, terutama di tengah budaya selebrasi kampus yang kini semakin marak. Menurutnya, pencapaian akademik tidak selalu harus dirayakan secara berlebihan, melainkan cukup disyukuri dengan cara yang sederhana namun bermakna.

Saat diwawancarai marwahriau.com, Muhammad Almi menyebutkan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan adanya selebrasi sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan diri sendiri. Menurutnya, setiap orang berhak merasa bangga setelah berhasil melewati proses panjang selama masa perkuliahan. Namun, ia menilai bahwa saat ini sebagian mahasiswa juga terdorong oleh tren yang berkembang di lingkungan dan media sosial.

“Selebrasi itu bentuk apresiasi terhadap diri sendiri karena sudah sampai di titik terakhir akademik, tetapi sekarang banyak orang yang hanya ikut-ikutan seolah olah perayaan itu sudah menjadi tradisi yang harus dilakukan. Sebenarnya tidak perlu memaksakan diri mengikuti tren selebrasi apabila masih ada kebutuhan lain yang lebih diprioritaskan,” ungkap Muhammad Almi saat diwawancarai secara daring. (20/5/2026).

Kegiatan selebrasi kelulusan dilingkungan kampus memang semakin ramai dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian mahasiswa memilih merayakan kelulusan dengan konsep yang lebih meriah untuk diabadikan di media sosial. Bahkan, tidak sedikit yang memaksakan kondisi ekonomi demi memenuhi ekspektasi lingkungan sekitar. Kondisi tersebut menurut Almi menjadi gambaran bagaimana esensi pencapaian akademik terkadang dapat terlupakan di tengah tren selebrasi yang semakin ramai.

Meski berhasil meraih predikat mahasiswa berprestasi, Muhammad Almi yang berstatus mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir mengaku dirinya masih memiliki tanggung jawab besar yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah menghadapi tantangan persaingan dunia kedepannya. Ia mengatakan bahwa gelar dan penghargaan akademik bukan sekadar simbol kebanggaan, tetapi amanah yang nantinya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

“Gelar itu ada tanggung jawabnya. Ya harapannya perayaan pencapaian tetap diimbangi dengan kesadaran akan tanggung jawab setelah lulus.”,” sebutnya.

Dalam hal merayakan pencapaiannya, Almi mengaku dirinya memiliki cara tersendiri untuk mengapresiasikan atas apa yang telah di raihnya. Ia memilih tidak melakukan selebrasi, melainkan meminta doa restu kepada kedua orang tuanya agar dimudahkan dalam menjalani langkah kehidupan ke depan. Baginya, doa orang tua menjadi bentuk syukur yang paling berarti dibanding perayaan yang bersifat sementara.

Menurut Almi, setelah lulus mahasiswa jangan pernah melupakan peran kedua orang tua yang selama ini menjadi alasan terbesar dalam perjuangan pendidikan. Ia menyebut bahwa orang tua adalah wakil Allah di dunia yang doanya memiliki kekuatan besar bagi perjalanan hidup seorang anak. Karena itu, ia percaya gelar yang didapat akan lebih bernilai apabila disertai restu dan doa dari kedua orang tua.

“Kalau saya pribadi, selebrasinya cukup minta doa sama orang tua. Karena setelah ini perjalanan hidup masih panjang, masih banyak lika-liku dunia yang harus dihadapi.” tutup Almi.(Lang)